6.10.10

Sensasi di Taman Safari...






Banyak alternatif tempat rekreasi di kawasan sekitar Jakarta, tapi Taman Safari menawarkan sensasi tersendiri. Dibuka secara resmi pada 1986, kawasan wisata ini berlokasi di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, merupakan bekas perkebunan teh yang sudah tidak produktif lagi. Dengan luas 138 hektar, tanah di daerah penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini diserahkan pemerintah daerah kepada Oriental Circus sebagai pengelola Taman Safari.

Taman Safari terletak persis di jalan raya antara Jakarta – Bandung di kawasan Puncak, lebih kurang 80 Km dari Jakarta atau 2 jam dengan kendaraan. Sedangkan bila dari Bandung sekitar 78 Km atau 3 jam dengan mobil, karena jalannya naik turun. Taman Safari memiliki koleksi satwa dari hampir seluruh penjuru dunia dan juga satwa lokal, seperti Komodo, Bison, Beruang Hitam Madu, Harimau Putih, Gajah, Anoa dan lain sebagainya.

”Husya, husya, husya,” itu kata-kata yang diteriakkan Einzel saat mengetahui ada hewan liar mendekat dan menciumi kaca mobil. Sempat kami cemas saat ada rombongan banteng menghalangi jalan. Untunglah, baik mobil maupun kaos kami tak ada yang bernuansa merah, hehehehe...

Memang, di Taman Safari kehebohan itu terasa saat mobil pengunjung dihadang binatang-binatang yang sengaja dibiarkan berkeliaran bebas. Karena itu, tertera peringatan keras, dilarang membuka kaca dan memberi makanan bagi hewan. Karena sekali memberi makanan, maka hewan lain pun akan terbiasa merubung pengunjung. Khusus yang tidak membawa mobil pribadi, pihak pengelola menyediakan bis Taman Safari untuk berputar di area satwa liar.

Taman Safari dibuka setiap hari dari jam 09.00 s/d 17.00 wib, dengan harga tiket dewasa Rp. 75.000, anak-anak (di bawah 5 tahun) Rp. 60.000, dan tiket mobil Rp 15.000. Selain itu, dalam rangkaian perayaan ”Halloween” Oktober ini, Taman Safari juga menyelenggarakan safari di malam hari. Selain di Bogor, kini Taman Safari juga hadir di dua lokasi lain, yakni di Prigen, Jawa Timur, dan Gianyar, Bali.

Ini alternatif wisata keren nih, bersatu dengan alam, dan meninggalkan kebiasaan jalan-jalan sambil cuci mata di mall.

17.9.10

Einzel dan kereta perempuan...


Libur Lebaran, Einzel jalan-jalan bareng ayah bunda ke Bogor. Kami naik Kereta Rel Listrik Pakuan Ekspress dari Stasiun Gondangdia, Menteng, dengan tiket seharga Rp 11 ribu/orang. Seperti biasa, Einzel selalu berteriak kegirangan melihat kereta api.
Tapi ini asyik lagi. Begitu naik, ayah tidak boleh satu gerbong dengan bunda dan mamas. Kata petugasnya, ayah tidak boleh masuk gerbong perempuan. Ternyata di Kereta Rel Listrik Jabodetabek sebulan terakhir telah diterapkan gerbong khusus untuk para penumpang wanita. Nggak hanya berlaku saat mudik saja lho.

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari, menyatakan, kereta khusus wanita memberikan rasa aman bagi penumpang yang menggunakan kereta. "Dengan kereta khusus ini pelecehan seksual bisa diantisipasi agar tidak terjadi serta menggugah partisipasi masyarakat untuk menyadari permasalahan itu," tutur Linda usai peresmian Kereta Khusus Wanita di Depo Depok, sebagaimana dikutip Tempointeraktif 19 Agustus silam.

Tidak hanya di dalam kereta, sejak ruang tunggu, tampak lahan khusus untuk calon penumpang perempuan. Ayah sendiri berkali-kali menengok dari gerbong pria, bagaimana kondisi bunda dan mamas di gerbong wanita. Tapi, eiiitss, di gerbong laki-laki tempat ayah berada, ada lho cewek yang nggak mau pindah ke gerbong wanita. Pacaran ya, mbak? Kalau wanita masuk gerbong cowok atas kemauannya, ya nggak apa-apa, asal bukan pria yang nyelenong masuk gerbong perempuan.

Bagaimana, kamu setuju adanya gerbong khusus perempuan yang terpisah dari laki-laki di kereta api? Mamas sih oke-oke saja, asal jangan jauh-jauh dari ayah...

24.8.10

Menunggu buka di Kota Tua




Ini jalan-jalan Einzel bersama ayah dan bunda, pekan lalu di Kota Tua Jakarta.
Siapa bilang Jakarta identik sebagai kota macet dan tak nyaman dihuni? Di antara berbagai problematika ibukota –seperti kepadatan lalu-lintas, banjir, banyaknya gelandangan, dan sebagainya- masih ada sisi positif dari kota berpenduduk lebih dari 8,5 juta jiwa ini. Tengoklah Kota Tua Jakarta, yang berada di kawasan barat, tepatnya di sekitar Stasiun Jakarta Kota dan Pelabuhan Sunda Kelapa. Disebut sebagai kota tua, karena pada zaman kolonialisme dulu, di sinilah pusat pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Pada Bulan Ramadhan ini, suasana Kota Tua menjadi ramai berkumpulnya orang-orang yang ngabuburit atau mencari kegiatan menjelang saat Buka Puasa. Beberapa situs bersejarah dikelilingi masyarakat, seperti Museum Fatahillah, Museum Bank Indonesia, Museum Keramik, Museum Wayang, dan juga kawasan pejalan kaki di kawasan Jalan Pintu Besar. Bagi kamu yang pengen menggunakan jasa sepeda onthel alias sepeda pancal untuk berkeliling Kota Tua, bisa menyewanya seharga Rp 10 ribu/jam.




Eksotisme bangunan tua di sini kerap membuat calon pengantin menjadikan Kota Tua sebagai lokasi pre-wedding. Hehe, jangan lupa lho, ayah dan bunda 4 tahun lalu juga melakukan foto pranikah di depan Musem Sejarah. Meminjam sepeda onthel, dijepret oleh kang Hendra Suhara, fotografer Majalah Tempo yang kini pindah ke Kontan.

Ah itu empat tahun lalu, sebelum Mamas Einzel ada. Sekarang Mamas Einzel udah hampir tiga tahun, dan main juga ke Kota Tua…

27.7.10

Seragam Sekolah





kawan-kawan, inilah seragam baru Mamas Einzel di TK Mahkota Hati

Mamas sekolah playgroup di TK samping rumah, dan terus ceria menghafal aksara, abjad, serta nyanyian-nyanyian baru.

Mamas juga terlihat jauh lebih percaya dibandingkan teman-temannya yang rata-rata lebih tuwir dan lebih gede

ceria, euy...

13.7.10

Ayo sekolah....



Simbah, ine, paklik, bulik, om, tante, kakak, adik, udah tahu belum? Mamas Einzel sudah sekolah lho. Mulai Senin, 12 Juli kemarin, mamas bergabung dengan TK Mahkota Hati, Ciledug. Kata ayah, usia mamas yang masih 2,5 tahun sebenarnya terlalu cepat untuk masuk sekolah, ”Tapi, daripada bengong di rumah, dan biar semakin pintar serta sebagai ajang bersosialisasi, ya masuk aja ke kelompok bermain.” Mau tahu jarak rumah mamas Einzel ke playgroup ini? Cuma beda dua rumah alias hanya 10 meter dari rumah mamas di komplek Mahkota Simprug. Hihihi...

Menurut ibu kepala sekolah, tiga minggu pertama sekolah ini para siswa belum pakai seragam dulu. ”Biar akrab,” katanya. Mamas masuk dari jam 8 pagi selama sejam dari Senin sampai Jum’at. Karena masih kelompok bermain, maka ya tidak harus belajar membaca, menulis, atau berhitung. Yang penting, main. Tapi, jangan salah, mamas sudah bisa membaca huruf A sampai Z, dan berhitung 1 sampai 50 lho.



Di hari pertama sekolah, ada kejadian mengharukan, nih. Menjelang jam 8, belum banyak teman-teman yang datang, jadi ayah kembali minta mamas masuk ke dalam pagar rumah. E.. karena bosan menunggu, mamas mengeluarkan sendiri buku gambar dari dalam tas. Di buku itu sudah ada coretan crayon huruf A sampai Z dan angka 1 sampai 10 yang ditulis mbak Tya pengasuh Einzel. Sambil menunggu jam sekolah, mamas membuka halaman itu dan membaca sendiri, ”A... B... C.. D..”

4.6.10

Kawah Putih, Situ Patenggang…



Setelah hampir dua tahun, mamas Einzel kembali berkunjung ke Bandung. Kali ini bersama bunda Celi dan mbak Tya yang menjemput ayah Jojo usai ayah mengikuti media training Pertamina di Hotel Santika, Bandung.

Sabtu, 29 Mei, dengan jasa mobil sewaan, mamas jalan-jalan ke selatan Bandung, tepatnya ke Kawah Putih dan Situ Patenggang. Menuju dua obyek wisata itu mobil mamas sempat kena macet di kawasan Moh. Toha dan Kopo, tapi syukurlah, mamas akhirnya bisa menyaksikan keindahan Kawah Putih usai diguyut hujan deras. Kata ayah, keindahan Kawah Putih tak kalah lho dengan obyek wisata serupa di Eropa, seperti Swiss, Austria, atau pegunungan lain di Skandinavia.



Kawah Putih berjarak 46 km atau 2,5 jam di selatan Kota Bandung, melewati kota kecil Soreang yang menjadi ibukota Kabupaten Bandung. Dari pintu masuk hingga ke kawah jaraknya sekitar 5 km atau bisa ditempuh sekitar 20 menit dengan harga tiket Rp 25 ribu untuk wisatawan lokal dan Rp 50 ribu untuk wisatawan mancanegara. Kawah putih terletak di sebuah gunung yang bernama Gunung Patuha. Dulu, masyarakat menganggap kawah ini kawasan yang angker karena banyak burung mati seketika melewati kawah ini.
Pada 1837 seorang ilmuwan Belanda Jerman Dr. Franz Wilhelm Junghun melakukan penelitian dan menemukan bahwa gunung ini dianggap angker karena semburan lava belerang yang berbau sangat menyengat. Kawah di gunung ini warna airnya terang dan selalu berubah-ubah.

Puas foto-foto di Kawah Putih dan Kebun Teh Ranca Bali di PT Perkebunan VIII, mamas lanjut ke Situ Patenggang, sekaligus beli oleh-oleh boneka Thomas yang dijual di lapak-lapak tepi danau nan cantik itu…

14.11.09

I am 2 Years Old






Thank’s God, 14 November ini Einzel tepat berusia dua tahun. Terimakasih Tuhan, buat kesehatan, pertumbuhan Mamas, dan juga lancarnya rezeki ayah bunda.
Einzel bersyukur sekali, saat ayah baru pertama jalan ke luar provinsi setelah usia lima belas tahun, Mamas sudah pernah ke Bali dan Singapura sebelum usia dua tahun.
Einzel bersyukur sekali, bisa merayakan ultah di rumah kreditan ayah bunda di Ciledug.

Banyak kawan dan kerabat yang datang. Ada yang bawa kado jaket, kaos, kereta, mobil, pancing ikan, truk, pokoknya macem-macem deh.. Ada pula bulik yang mewakilkan diri dengan kirim strawberry cake dari Harvest Pondok Indah.

Yang mengejutkan, sebelum kue ultah itu dipotong, ayah mempersilahkan Mamas memberikan sepatah dua patah kata Maksudnya sih cuma becanda, di luar dugaan Mamas langsung berpidato dengan tangan kanan teracung-acung, seperti berterimakasih atas kedatangan teman-teman. Kayak Obama aja gaya pidatonya… “To all of my friends, thank’s to coming here, at my best moment this year. Now, let enjoy the strawberry cake..”

Selamat Ultah, Mas.. Panjang Umur ya… Udah keliatan tuh gayanya mau jadi pemimpin. Suka nunjuk dan maksa-maksa ayah bunda pake ngacung-acungin tangan… “Ayah Bok… Ayah Bobok… Bunda Duduk"