7.9.08

Topeng Monyet



Topeng monyet adalah dilema. Kadang Mamas senang banget nonton pertunjukan murah meriah keliling kampung ini. Tapi, kadang ayah dan bunda sebel banget, terutama kalau mereka datang saat Mamas Einzel sedang nyenyak-nyenyaknya bobok siang. Ayah menyebut mereka secara khusus sebagai ”pembuat keributan”.

Bagi masyarakat Jakarta pun topeng monyet adalah dilema. Di satu sisi ini adalah sarana mencari uang dengan mudah. Konon, di kawasan Kampung Rambutan, Jaktim, tersedia aneka stok monyet terlatih yang diperdagangkan untuk menjadi atraksi.

Namun, para aktivis pencinta binatang menganggap pelaku seni topeng monyet sebagai aktor kekerasan terkejam terhadap hewan. Sebuah blog menulis menarik tentang atraksi topeng monyet dan sejenisnya,

“Meskipun hiburan tradisional ini sudah dinyatakan illegal di Romania, pertunjukkan dancing bears, di mana, seperti topeng monyet yang dianggap hiburan asli masih tetap ada. Pemiliknya dengan mudah menyuap polisi. Beberapa organisasi pecinta hewan sudah membeli beberapa dancing bears dari pemiliknya dengan tujuan merawat hewan tersebut dengan kasih sayang dan konseling, dengan tujuan akhir melepaskan mereka kembali ke alamnya, namun sebagian besar dari mereka sudah tidak bisa hidup di alam liar.

Jadi, tolong jangan gunakan hewan sebagai hiburan. Tentu saja, beberapa hewan, ketika dilatih untuk melakukan trik, mereka akan diberikan makanan ketika berhasil. Ketika gagal, beberapa pelatih akan melatihnya kembali. Mereka menggunakan sistem hadiah, bukan dengan pukulan atau siksaan.

Topeng monyet Indonesia, sebagai contoh, tidak dilatih menggunakan sistem hadiah. Seperti dancing bears, mereka tampil untuk menghindari hukuman dan kesakitan yang ditimbulkan oleh pelatih mereka. Itu adalah kekejaman, bukan hiburan.

Ajarkan anak anda untuk tidak “terkurung” dengan sikap tersebut, atau mereka juga akan menemukan diri mereka sendiri tidak memiliki empati dan toleransi terhadap setiap bentuk kekejaman terhadap hewan dan alam.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar